Ibnu Haitham Pembuka Misteri Pengelihatan

Peran ilmuwan Muslim di masa lalu terhadap perkembangan sains dan sosial sangat besar. Operasi katarak pertama dilakukan pada awal abad ke-10 di Irak oleh sarjana Muslim. Pendiri apotik pertama adalah orang Islam, begitu juga dengan sekolah ilmu farmasi pertama. Ilmuwan Muslim menulis naskah yang sangat hebat tentang ilmu farmasi.

Perkembangan ilmu pengetahuan memang tidak terlepas dari jasa ilmuwan Muslim. Salah satunya di bidang ilmu penglihatan. Ada beberapa ilmuwan Muslim yang berperan penting dalam kemajuan pengetahuan bidang ini. Awalnya, teori tentang penglihatan dicetuskan oleh Ptolomeus dan Euclid. Menurut mereka, penglihatan dihasilkan oleh pancaran cahaya dari mata. Namun, teori ini tidak bisa memberikan penjelasan yang masuk akal. Teori ini juga tidak bisa menjelaskan mengapa ukuran objek bergantung dari jarak objek dengan orang yang melihatnya.

Sementara itu, Aristoteles, Gallen, dan para pengikutnya percaya teori intomission. Dalam teori ini disebutkan bahwa sesuatu memasuki mata mewakili objek. Tetapi sekali lagi teori ini tidak memberikan penjelasan yang memadai. Al-Kindi, seorang Muslim, mempertanyakan teori Euclid dan menyarankan beberapa alternatif penjelasan. Misalnya kerucut penglihatan bukan membentuk cahaya khusus seperti yang dikatakan Euclid, melainkan muncul sebagai hasil pancaran yang terus-menerus. Sinar berwujud tiga dimensi dan membentuk sebuah pancaran terus-menerus yang berbentuk kerucut.

Al-Kindi juga menjelaskan bagaimana sinar datang dalam garis lurus. Dua percobaannya dalam bidang optik geometris dan fisik digunakan oleh seorang kebangsaan Inggris Roger Bacon (1214-12192) dan ahli fisika Jerman, Witelo. Penjelasan ilmiah belum ada yang dapat memberi penjelasan yang memuaskan tentang penglihatan sampai hadirnya Ibnu al-Haitham (965-1039). Kritik Al-Kindi telah membuka jalan bagi Ibnu al-Haitham untuk menjelaskan teori tentang penglihatan.

Ibnu al-Haitham yang di Barat dikenal sebagai Al-Hazen menjelaskan bagaimana makhluk bisa melihat melalui cahaya yang dipantulkan ke benda dan memasuki mata. Ia menjelaskan hal ini dengan eksperimen mendetail. Teorinya merupakan penemuan modern bagi ilmu pengetahuan tentang penglihatan. Ia mengkombinasikan pendekatan matematis Euclid dan Ptolemy dengan prinsip fisika yang diikuti filosof alami.

Melalui eksperimen cahaya dan penglihatannya, Ibnu al-Haitham menjelaskan fenomena kekaburan yang terjadi di kamera. Ia menjelaskan bahwa kita melihat objek dari bawah ke atas, dan bukan dari atas ke bawah seperti yang dilakukan kamera. Hal ini disebabkan karena koneksi syaraf optik dengan otak yang menganalisa dan mendefinisikan gambar.

Ibnu Al Haitham lahir di Basra, Irak, tahun 965 masehi. Ia besar di Mesir bersama Al-Hakim (996-1020) dan wafat di Kairo tahun 1039. ia disebut sebagai ahli fisika muslim terhebat dan salah satu murid yang mempelajari ilmu penglihatan yang terbaik sepanjang masa. Ia juga seorang ahli astronomi, ahli matematika, ahli fisika, dan menulis penjelasan bagi Aristoteles dan Galen. Ia menulis sekitar 70 manuskrip (naskah kuno) dan ia telah mengungkapkan teori Snell yang terkenal sekitar 600 tahun sebelum Snell menemukannya.

Ibnu Al Haitham membuat kitab Al-Manazir. Kitab ini menjelaskan tentang ilmu penglihatan. Pada perkembangannya, kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan memberi pengaruh besar bagi ilmuwan barat seperti R Bacon dan Kepler.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: